MBG Disentil, Stunting Bantargadung Tak Kunjung Turun, Menu Dinilai Salah Sasaran

Suasana saat rapat bersama seluruh elemen mulai dari Kepala Puskesmas, UPTD Dalduk, kepala desa, SPPG, hingga para ahli gizi se-Bantargadung. | Foto: Istimewa

 

BANTARGADUNG, sukabumiinside.com | Angka stunting di Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi mendadak bikin geleng kepala. Bukannya turun, jumlah kasus justru melonjak dari 247 menjadi 280 kasus di pertengahan 2026. Lonjakan ini sontak jadi alarm keras bagi pemerintah setempat.

Rapat koordinasi (rakor) darurat pun langsung digelar. Tak tanggung-tanggung, seluruh elemen digerakkan, mulai dari Kepala Puskesmas, UPTD Dalduk, kepala desa, SPPG, hingga para ahli gizi se-Bantargadung.

Camat Bantargadung, Syarifuddin Rahmat, blak-blakan mengungkap penyebab sementara kenaikan angka tersebut. “Memang ada kemungkinan alat antropometri rusak dan penimbangan kurang cermat. Tapi ini tetap jadi alarm serius bagi kita semua,” katanya, Kamis (16/7/2026).

Namun yang bikin publik makin tercengang, berbagai program penanganan sebenarnya sudah berjalan. Program MBG (Makanan Bergizi Gratis) hingga PMT dari desa dan Puskesmas terus digulirkan. Sayangnya, hasilnya belum “nendang”.

“MBG jalan, PMT jalan, tapi stunting itu masih stuck. Turunnya lebih karena faktor usia, bukan karena intervensi,” ungkap Syarifuddin.

Fakta di lapangan pun tak kalah mengejutkan. Berat badan anak memang menunjukkan peningkatan tiap bulan, namun tinggi badan, indikator utama stunting justru sulit terdongkrak.

Sorotan tajam pun mengarah ke satu hal krusial, menu MBG yang dinilai tidak tepat sasaran.

“Anak usia 6–24 bulan kebutuhannya berbeda, tapi menunya disamakan dengan usia 2–5 tahun. Ini harus diperbaiki,” tegasnya.

Kondisi ini membuat Pemcam Bantargadung tak mau tinggal diam. Strategi baru pun disiapkan. SPPG didorong lebih fleksibel, bahkan berani melakukan “diskresi” agar menu benar-benar sesuai kebutuhan usia anak.

Tak hanya itu, langkah agresif juga disiapkan di lapangan. “Kita akan gerebek Posyandu di tiap desa. Semua stakeholder harus bergerak bareng,” ujar Syarifuddin.

Fokus utama kini diarahkan pada ibu hamil (Bumil) demi mewujudkan zero new stunting, serta balita usia 6–24 bulan yang menjadi kelompok paling rentan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bantargadung, Siska Santika, mengakui kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar. “Data bulan ini masih proses, tapi sampai bulan kemarin angkanya 8,3%. Targetnya jelas, akhir tahun harus turun ke 5% sesuai arahan Pak Gubernur,” katanya.

Di tengah sorotan tajam, program MBG tetap dianggap punya peran penting, asal dibenahi.

“Salah satu kunci penanganan stunting adalah pemberian makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil. MBG berperan di situ, menyediakan makanan bergizi dan berkualitas,” jelas Siska.

Harapannya, ibu hamil mendapat asupan gizi optimal sehingga tak melahirkan anak stunting. Sementara untuk balita, menu MBG ke depan akan disesuaikan lebih spesifik dengan kebutuhan tumbuh kembang.

 

Redaktur: Juliansyah 

 

 

Pos terkait

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 - SukabumiInside.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *