258 Siswa MI Simpang Cisolok Belajar dengan Fasilitas Terbatas, Kursi Plastik Dipakai hingga Tiga Tahun

Suasana Kegaiatan Belajar Mengajar Siswa M.I Simpang, Jum'at (2/10/2026). | Foto: Istimewa

 

CISOLOK, sukabumiinside.com | Kondisi fasilitas belajar di MI Simpang, Desa Wangunsari, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, menjadi perhatian. Sekolah yang menampung ratusan siswa tersebut masih menggunakan sejumlah kursi plastik sebagai tempat duduk dalam kegiatan belajar-mengajar.

Bacaan Lainnya

Kondisi itu disampaikan Misbahuddin, salah seorang guru MI Simpang, saat menjelaskan fasilitas sekolah. Menurutnya, penggunaan kursi plastik telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir.

“Untuk penggunaan kursi plastik itu paling kurang lebih tiga tahunan,” ujar Misbahuddin, saat di temui, Jum’at (2/10/2026).

Kondisi Plafon Sekolah M.I Simpang, Jumat (2/10/2026). | Foto: Istimewa

Ia menjelaskan, tidak seluruh ruang kelas menggunakan kursi plastik. Sebagian kelas masih menggunakan kursi kayu, sementara beberapa fasilitas lainnya menggunakan kombinasi material besi dan kayu.

Namun, persoalan fasilitas bukan hanya terkait jenis kursi. Misbahuddin menyebut jumlah sarana yang tersedia belum sepenuhnya sebanding dengan jumlah siswa yang mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

Menurut keterangannya, MI Simpang memiliki sekitar 258 siswa dengan delapan kelas aktif.

“Di sini untuk jumlah murid itu 258. Dan jumlah kelasnya hanya ada delapan yang aktif. Sebagian kelasnya juga ada yang kurang bangku sama kursinya,” jelasnya.

Keterbatasan fasilitas juga terjadi pada sarana sanitasi sekolah. Misbahuddin mengatakan sebagian WC umum di sekolah mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan.

Dari sejumlah fasilitas WC yang tersedia, menurut dia, hanya sekitar dua hingga tiga yang masih aktif. Sementara empat WC lainnya disebut mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut dinilai menjadi persoalan tersendiri mengingat jumlah siswa yang mencapai ratusan orang.

“WC umum sebagian rusak. Yang aktif itu dua, tiga. Yang lainnya rusak, tidak bisa digunakan. Ada empat yang tidak bisa digunakan,” katanya.

Misbahuddin berharap kondisi fasilitas pendidikan di MI Simpang mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya instansi yang membidangi pendidikan madrasah.

Ia meminta sekolah swasta juga mendapatkan perhatian dalam pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan.

“Harapannya bagi kami sebagai pengajar di sini agar lebih memperhatikan, khususnya untuk sekolah swasta seperti kami di MI Simpang ini,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan tidak hanya terjadi pada bangku dan kursi, tetapi juga menyangkut ruang kelas serta fasilitas sanitasi.

Ia berharap dukungan terhadap sarana pendidikan dapat disesuaikan dengan jumlah peserta didik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan fasilitas yang lebih memadai.

Misbahuddin menyebut, MI Simpang menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Namun, ketika ditanya mengenai besaran dana BOS yang diterima per siswa, ia mengaku tidak mengetahui angka tersebut dan menyarankan agar informasi mengenai pengelolaan maupun kebijakan sekolah ditanyakan kepada pihak yang berwenang.

Misbahuddin memaparkan, dirinya hanya bertugas sebagai guru sehingga tidak memiliki kewenangan untuk memberikan penjelasan lebih jauh mengenai kebijakan sekolah maupun pengelolaan anggaran.

 

 

 

Redaktur: Juliansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *