Sekolah Diguncang Dugaan Kekerasan Seksual, Disdik Sukabumi Turunkan Tim Khusus

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi Deden Sumpena saat diwawancara oleh awak media, Kamis (25/6/2026). | Foto: Juliansyah

CIKEMBAR, sukabumiinside.com | Dugaan kasus kekerasan seksual yang menyeruak di salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, langsung menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi. Kasus ini kini tidak hanya ditangani internal, tetapi juga sudah masuk dalam proses aparat penegak hukum.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menyebut, pihaknya telah bergerak cepat dengan menurunkan tim untuk melakukan pendalaman di lapangan.

 

“Kemarin kita sudah menugaskan kasi kesiswaan untuk melakukan proses pendalaman bersama orang tua, ketua PGRI, dan pengawas di sana. Hari ini juga kita sudah berkoordinasi dengan DP3A untuk proses pendampingan,” ujar Deden,

 

Ia menegaskan, penanganan kasus ini tidak berjalan sendiri, karena saat ini juga tengah ditangani Polres Sukabumi.

 

“Saat ini masih dalam proses penanganan Polres Sukabumi. Mudah-mudahan ini tidak terulang kembali,” tegasnya.

 

Kasus ini kembali membuka mata bahwa dunia pendidikan tidak sepenuhnya steril dari ancaman kekerasan. Deden menyebut, kejadian seperti ini bisa terjadi baik di dalam maupun luar lingkungan sekolah, sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih luas dan terpadu.

 

Sebagai langkah pencegahan, Disdik Sukabumi telah membentuk Pokja “Sekolah Aman dan Nyaman” yang diketuai oleh Sekretaris Daerah (Sekda). Pokja ini akan menjadi garda depan dalam upaya pencegahan kasus serupa.

 

“Kita sudah membentuk Pokja aman nyaman di sekolah. Prinsipnya bukan hanya di sekolah, karena kejadian juga bisa terjadi di luar jam sekolah,” jelasnya.

 

Deden menjelaskan, upaya menciptakan lingkungan aman bagi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau Disdik semata. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari orang tua, lingkungan, desa, hingga kecamatan.

 

“Harus ada sinergi antara pemerintah daerah dan orang tua agar sekolah benar-benar menjadi wilayah yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita,” ujarnya.

 

Pokja ini juga akan diperkuat melalui sosialisasi serta kerja sama dengan Dewan Pendidikan guna memperluas jangkauan pengawasan dan pencegahan.

 

“Ini harus sinergis. Bukan hanya tim di stakeholder pendidikan, tapi juga peran orang tua, lingkungan, desa, dan kecamatan harus bersama-sama,” pungkasnya.

 

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Sukabumi. Di balik ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, kini tersirat pesan tegas: pengawasan tak boleh lengah, sedikit celah bisa berakibat fatal.

 

Redaktur: Juliansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *