Jalan Hancur Dihajar Truk Bocimi, Warga: Kami Sudah Muak

Tangkapan layar video amatir warga, Truk Tronton bermuatan Tanah saat melintasi jalan Ciheulang Tonggoh, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, siang tadi, Jum'at (26/6/2026). | Foto: ist

CIBADAK, sukabumiinside.com | Di tengah ambisi besar pembangunan infrastruktur, ada cerita getir yang harus ditelan warga. Aktivitas truk pengangkut tanah proyek Tol Bocimi Seksi 3 kembali menuai sorotan tajam. Bukan tanpa sebab, warga Desa Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, kini dibuat muak oleh dampak yang kian hari semakin tak terkendali.

Jalan rusak parah, lumpur tebal menggunung, hingga kecelakaan yang terus berulang menjadi “harga mahal” yang harus dibayar warga di balik proyek raksasa tersebut.

Keluhan warga bukan sekadar isapan jempol. Meski aturan jam operasional kendaraan proyek terpampang jelas di lokasi, truk-truk bermuatan tanah diduga tetap bebas melintas di jalan lingkungan, bahkan hingga larut malam. Kondisi ini tak hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga merampas waktu istirahat warga.

“Jam operasional jelas ada, tapi di lapangan truk tetap lewat seenaknya, bahkan malam hari. Ini sangat mengganggu, kita sering komplen ke pihak proyek cuma dapat jawaban, ‘baik pak nanti disampaikan’,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Jumat (26/6/2026).

Tak berhenti di situ, kondisi jalan desa kini berubah bak jalur ekstrem. Perbaikan yang dilakukan dinilai asal-asalan dan jauh dari standar. Jalan berlubang hanya ditambal batu dan kerikil bercampur tanah, tanpa penanganan yang layak.

Akibatnya, saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur tebal yang licin dan membahayakan. Pengendara roda dua menjadi korban paling rentan jatuh, tergelincir, bahkan mengalami luka.

“Sudah banyak yang jatuh. Lumpur tebal, licin. Tapi penanganannya lambat, bahkan seperti dibiarkan,” keluh warga lainnya.

Ironisnya, penyiraman jalan yang dilakukan pihak proyek dinilai sekadar formalitas untuk menekan debu, bukan solusi untuk mengatasi lumpur. Alih-alih membaik, kondisi justru semakin parah karena lumpur makin menumpuk.

Kekecewaan warga semakin memuncak karena setiap keluhan yang disampaikan seolah hanya berujung janji kosong. Respons cepat baru terlihat ketika persoalan viral di media sosial, itu pun hanya bersifat sementara.

“Kami sudah sering komplain. Jawabannya selalu ‘nanti disampaikan’. Tapi tidak ada tindakan nyata. Kalau ramai di medsos baru bergerak, setelah itu diam lagi,” tegas warga dengan nada kesal.

Sebelumnya, aktivitas truk proyek ini juga sempat dikeluhkan warga Kampung Pabuaran RT 10/01 pada pertengahan Juni lalu. Namun hingga kini, persoalan serupa masih terus berulang tanpa solusi konkret.

Kini, warga Desa Ciheulang Tonggoh mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas kendaraan proyek Tol Bocimi Seksi 3. Mereka menuntut penegakan aturan jam operasional, perbaikan jalan sesuai standar, serta penanganan serius terhadap dampak lingkungan. Bagi warga, pembangunan memang penting. Namun keselamatan dan kenyamanan tidak boleh dikorbankan.

 

Redaktur: Juliansyah

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *