Di Balik Megaproyek Tol Bocimi, Warga Cibadak Bergulat dengan Jalan Rusak dan Lumpur

CIBADAK, sukabumiinside.com || Aktivitas Truk pengangkut tanah proyek Tol Bocimi Seksi 3 kembali menuai keluhan warga. Meski aturan jam operasional kendaraan proyek telah dipasang di lokasi, truk-truk bermuatan tanah diduga masih bebas melintas di jalan lingkungan Kampung Pabuaran RT 10/01, Desa Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Senin (15/6/2026).

Warga menilai keberadaan papan informasi jam operasional seolah hanya menjadi pajangan. Pasalnya, kendaraan berat masih terlihat melintas pada jam-jam yang dianggap mengganggu aktivitas masyarakat dan memperparah kerusakan jalan lingkungan yang setiap hari digunakan warga.

Kerusakan jalan yang semakin parah kini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan. Saat musim kemarau, debu tebal beterbangan dan mengganggu kesehatan warga. Sebaliknya saat hujan turun, ruas jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan rawan kecelakaan.

“Kalau habis hujan licin banget. Banyak yang jatuh. Saya sering lihat langsung karena posisi bengkel saya di pinggir jalan,” ungkap Asep Bitung, warga setempat yang sehari-hari membuka usaha bengkel di lokasi tersebut.

Menurutnya, keluhan mengenai kondisi jalan sebenarnya sudah berulang kali disampaikan kepada pihak terkait. Namun hingga kini belum ada kepastian langkah konkret yang akan dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Sudah pernah disampaikan. Cuma jawabannya nanti akan disampaikan ke atas. Belum ada jawaban yang pasti,” katanya.

Asep mengaku hampir setiap musim hujan menyaksikan pengendara roda dua tergelincir akibat tanah dan lumpur yang terbawa dari aktivitas kendaraan proyek ke badan jalan.

“Saya sering lihat orang jatuh, terutama di depan bengkel. Kalau musim hujan makin parah karena tanah dari truk terbawa ke jalan dan jadi licin,” imbuhnya.

Kondisi tersebut membuat warga mempertanyakan komitmen pihak pengelola proyek dalam menjaga keselamatan masyarakat sekitar. Di satu sisi pembangunan jalan tol terus dikebut, namun di sisi lain warga merasa harus menanggung dampak berupa jalan rusak, debu, lumpur, hingga meningkatnya risiko kecelakaan.

Warga meminta pihak pengelola proyek Tol Bocimi Seksi 3 dan kontraktor pelaksana tidak menunggu adanya laporan atau protes masyarakat terlebih dahulu untuk melakukan perbaikan. Mereka berharap setiap kerusakan yang muncul akibat aktivitas proyek segera ditangani secara cepat dan berkala.

“Kalau bisa jangan nunggu dilaporkan dulu baru diperbaiki. Begitu ada kerusakan langsung diperbaiki karena jalan ini dipakai masyarakat setiap hari,” tegas Asep.

Selain itu, masyarakat juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap penerapan jam operasional kendaraan proyek. Warga mengusulkan agar lalu lintas kendaraan berat lebih difokuskan pada malam hari sehingga tidak mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan pada siang hari.

Pembangunan infrastruktur strategis memang menjadi kebutuhan daerah. Namun masyarakat menegaskan, pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan dan kenyamanan warga yang tinggal di sekitar proyek.

Perbaikan jalan, pengendalian debu, pembersihan lumpur, serta penegakan aturan operasional kendaraan proyek menjadi tuntutan yang kini mendesak untuk segera diwujudkan sebelum muncul korban kecelakaan yang lebih banyak.

sumber: Sukabumiinside.com

Redaktur: Juliansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *