Penyintas Cijambe Menagih Kepastian DTH: Sudah Teken Bermaterai, Bantuan Tak Kunjung Cair

Tenda Darurat penyintas bencana di atas MCK Masjid Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu. | Foto: Istimewa

BANTARGADUNG, sukabumiinside.com — Harapan penyintas bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, RT 05/RW 07, Kabupaten Sukabumi, untuk kembali mendapatkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) mulai berubah menjadi keresahan.

Pasalnya, bantuan yang disebut tengah diupayakan kembali oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi tersebut hingga kini belum diterima warga. Penyintas bahkan mengaku siap kembali mendirikan tenda apabila bantuan tak kunjung cair.

Bacaan Lainnya

Siti Syamsiah, salah seorang penyintas bencana pergerakan tanah Cijambe, mengatakan warga sebelumnya telah menandatangani surat pernyataan penerimaan DTH yang difasilitasi petugas BPBD bersama perangkat desa.

“Menurut info dari kecamatan, diupayakan ada Bansos DTH lagi oleh Pak Bupati. Kita kemarin sudah tanda tangan surat pernyataan penerimaan DTH, petugas BPBD bersama perangkat desa,” kata Siti, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, warga menandatangani dokumen tersebut di atas materai. Kondisi itu membuat sebagian warga merasa memiliki harapan bahwa bantuan DTH akan segera direalisasikan.

“Kita warga sudah tanda tangan di atas materai. Setelah warga tanda tangan, warga merasa dijanjikan oleh pemerintah. Sampai sekarang DTH-nya belum cair,” ujarnya.

Siti menegaskan, informasi mengenai kemungkinan adanya bantuan DTH kembali tersebut lebih banyak diterima warga melalui pihak kecamatan.

Ia juga mengungkapkan, sebelumnya warga sempat diminta membongkar tenda ketika akan menerima bantuan. Namun, hingga kini bantuan yang ditunggu belum juga diterima.

“Saya cuma tahu pas warga mendirikan tenda katanya mau ditransfer, tenda harus dibongkar. Tapi sampai sekarang masih belum cair,” tuturnya.

Jika bantuan belum juga cair, Siti mengatakan warga berencana kembali mendirikan tenda sebagai tempat berteduh.

“Kalau besok belum cair juga, warga akan mendirikan tenda lagi. Karena kita merasa dijanjikan setelah tanda tangan di atas materai,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian. Sebab, warga membutuhkan bantuan tersebut untuk membiayai kebutuhan hunian sementara dengan cara mengontrak rumah.

“Harapan warga DTH cair secepatnya karena warga memang membutuhkan untuk mengontrak. Jika DTH tidak cair, warga terpaksa akan mendirikan tenda dan akan kembali ke lokasi bencana membuat saung,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebit, Camat Bantargadung Syarifudin Rahmat membenarkan bantuan DTH atau bantuan sosial perorangan kembali diupayakan bagi penyintas bencana Kampung Cijambe.

Menurutnya, bantuan tersebut sangat dibutuhkan mengingat kondisi ekonomi warga yang terdampak bencana.

Ia menyebut, dari 97 rumah warga yang terdampak, sebanyak 83 rumah mengalami rusak berat hingga hancur dan hanya menyisakan puing.

“DTH atau bansos perorangan yang akan diupayakan diberikan kembali oleh Pak Bupati kepada warga penyintas bencana Kampung Cijambe sangat-sangat dibutuhkan,” kata Syarifudin, Kamis (24/9).

Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih jika harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa tempat tinggal.

“Warga untuk mengontrak lagi sangat berat. Biaya hidup sehari-hari saja susah, walau masih terus berikhtiar dari sisa lahan kebunnya di atas kampung,” ujarnya.

Menurut Syarifudin, sejumlah warga bahkan terpaksa menjual barang-barang yang masih dimiliki untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Ada yang menjual perabot elektronik dan sisa-sisa bahan bangunan rumahnya,” katanya.

Di sisi lain, persoalan warga belum berhenti pada bantuan DTH. Mereka juga masih menunggu kepastian relokasi dan pembangunan hunian tetap (huntap).

Syarifudin menyebut sudah ada harapan terkait persiapan lahan relokasi. Selain itu, terdapat informasi mengenai bantuan pembangunan huntap dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat senilai Rp40 juta untuk setiap bangunan.

“Kaitan ultimatum warga, mungkin warga ingin ada kepastian dan percepatan tentang penanganan pemulihan bencana bagi mereka, kaitan relokasi dan huntap,” katanya.

Warga, lanjut dia, tidak ingin mengalami kondisi seperti penyintas bencana di wilayah lain yang harus menunggu bertahun-tahun hingga proses relokasi dan pembangunan huntap terealisasi.

“Kami sudah sering menjelaskan untuk bersabar dan selalu berdoa supaya cepat terealisasi bansos/DTH yang diupayakan kembali oleh Pak Bupati, termasuk relokasi dan huntap,” jelasnya.

Ia berharap bantuan tersebut segera direalisasikan.

“Mudah-mudahan hari ini bisa cair, infonya yang kami terima dari petugas P2BK BPBD,” pungkasnya.

Sebagai catatan, data awal pada Maret 2026 mencatat sebanyak 112 kepala keluarga (KK) atau 356 jiwa terdampak bencana pergerakan tanah di wilayah Cijambe.

 

Redaktur: Juliansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *