BANTARGADUNG, sukabumiinside.com — Tak punya lagi uang untuk membayar kontrakan, warga penyintas bencana di Kampung Cijambe, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, terpaksa mencari tempat berteduh seadanya. Setelah sebelumnya membangun saung di antara reruntuhan rumah, kini mereka mendirikan tenda darurat di atas bangunan MCK Masjid, pada Kamis (17/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi gambaran getir kehidupan warga yang rumahnya terdampak bencana pergerakan tanah pada 2024. Di tengah penantian relokasi dan pembangunan hunian tetap (huntap), sebagian warga kini harus bertahan dengan tempat tinggal darurat karena tak lagi mampu melanjutkan biaya kontrakan.
Kondisi tersebut menggambarkan sulitnya warga bertahan setelah kehilangan rumah akibat bencana. Mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk terus membayar biaya kontrakan, sementara kepastian relokasi dan pembangunan hunian tetap (huntap) masih ditunggu.
Camat Bantargadung Syarifudin Rahmat membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, warga sebelumnya telah mendapatkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) dari Bupati Sukabumi selama enam bulan. Terhitung Maret hingga Agustus 2026.
Namun, setelah bantuan tersebut berjalan selama enam bulan, sebagian warga kembali menghadapi persoalan tempat tinggal.
“Warga selain bikin saung-saung atau hunian sementara di reruntuhan rumahnya dan juga mendirikan tenda di atas MCK masjid, dalam artian warga sudah tidak mampu membayar uang kontrakan,” kata Syarifudin, saat di konfirmasi Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, warga kini berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai relokasi dan pembangunan huntap. Mereka tidak ingin harus hidup berpindah-pindah atau menunggu tanpa kejelasan selama bertahun-tahun.
“Warga tidak mau terlunta-lunta hingga menunggu sampai bertahun-tahun realisasi relokasi dan huntap dalam pemulihan pascabencana,” ujarnya.
Tim Kecamatan Bantargadung telah turun langsung mengecek kondisi warga di lokasi. Dari hasil pengecekan, terdapat delapan (8) kepala keluarga (KK) yang telah membangun hunian sementara berupa saung di sekitar reruntuhan rumah maupun lokasi terdampak bencana.
“Tim Kecamatan sudah cek lapangan. Kondisinya ada delapan KK yang sudah membangun hunian sementara/saung di sekitar reruntuhan rumah/lokasi bencana dan tenda di atas MCK Masjid Cijambe,” ungkapnya.
Kondisi tersebut kemudian mendorong sejumlah penyintas meminta penjelasan kepada pemerintah kecamatan mengenai kepastian pelaksanaan relokasi dan pembangunan huntap.
Syarifudin menjelaskan, pemerintah kecamatan telah berupaya menjelaskan tahapan yang akan dilakukan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
“Kami berupaya menjelaskan kepada warga bahwa Pemda akan segera secepatnya menindaklanjuti relokasi dengan pematangan lahan (cut and fill/pendozeran),” Jelasnya.
Setelah proses pematangan lahan selesai, pemerintah daerah disebut akan melanjutkan tahapan pembangunan huntap bagi warga terdampak.
“Setelah itu segera diadakan pembangunan huntapnya dengan perkiraan waktu enam bulan ke depan,” pungkasnya.
Redaktur: Juliansyah






