CICURUG, sukabumiinside.com | Konflik antar trayek angkutan kota di Cicurug kian memanas. Perseteruan antara Trayek 02 dan Trayek 09 kini tak lagi sekadar soal rute, tetapi mulai menyentuh potensi benturan di lapangan.
Ketua Umum Trayek 02, Diki, melontarkan protes keras atas penertiban operasional yang dinilai dilakukan sepihak tanpa pemberitahuan resmi. Ia menyebut kebijakan tersebut menjadi pemicu utama memanasnya hubungan antar sopir.
“Tidak ada pemberitahuan tertulis. Kami tahunya dari media sosial. Ini yang membuat situasi di lapangan jadi panas,” tegas Diki, Rabu (5/8/2026).
Di lapangan, ketegangan disebut sempat terjadi ketika armada Trayek 02 dan Trayek 09 saling berebut penumpang di titik-titik strategis. Bahkan, perubahan mendadak rute membuat sejumlah penumpang harus diturunkan di tengah perjalanan—memicu keluhan sekaligus memperkeruh suasana antar sopir.
“Kalau terus begini, bukan tidak mungkin terjadi gesekan. Ini sudah mulai mengarah ke konflik terbuka,” ungkapnya.
Akar persoalan tak lepas dari tumpang tindih lintasan. Trayek 02 mengklaim memiliki jalur hingga Terminal Cicurug, sementara di sisi lain Trayek 09 merasa wilayah operasionalnya tergerus. Kondisi ini membuat batas trayek di lapangan menjadi abu-abu dan rawan konflik.
Diki menegaskan, pihaknya tidak menolak penataan. Namun, ia menilai kebijakan yang dipaksakan tanpa kesiapan hanya akan memperbesar konflik antar trayek.
Selain itu, ia juga menyoroti kesiapan Terminal Cicurug yang dinilai belum layak. Dengan jumlah armada Trayek 02 yang hampir mencapai seribu unit, terminal disebut tidak akan mampu menampung dan justru berpotensi memicu kemacetan baru.
“Kalau semua dipaksa masuk terminal, itu bukan menyelesaikan masalah, malah bisa jadi sumber konflik baru antar sopir,” katanya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan sopir, tetapi juga masyarakat. Penumpang, terutama pelajar dan pekerja yang menuju Bogor, terancam harus berganti angkutan akibat perubahan titik layanan.
“Jangan sampai masyarakat jadi korban. Ongkos bertambah, waktu tempuh juga lebih lama,” ujarnya.
Di tengah situasi yang memanas, Diki mengingatkan agar konflik antar trayek tidak berujung pada adu fisik di jalan. Ia meminta semua pihak menahan diri sambil menunggu keputusan resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Saya tegaskan, ini jangan sampai jadi adu kuat di jalan. Harus diselesaikan lewat aturan,” tandasnya.
Reporter: David
Redaktur: Juliansyah






