JAMPANGTENGAH, sukabumiinside.com | Bantuan perahu karet lengkap dengan sepasang dayung dan pelampung dari Komando Armada RI (Koarmada RI) TNI Angkatan Laut kini menjadi sarana vital bagi masyarakat yang terdampak putusnya Jembatan Gantung Leuwidinding di Sungai Cimandiri, Kabupaten Sukabumi.
Perahu tersebut digunakan setiap hari oleh warga dan para pelajar untuk menyeberangi Sungai Cimandiri setelah jembatan penghubung antardesa itu ambruk akibat diterjang luapan Sungai Cimandiri pada 28 Desember 2025 lalu.
Kepala Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Dilah Habillah, mengatakan bantuan tersebut sangat membantu aktivitas masyarakat yang selama ini bergantung pada akses penyeberangan tersebut.
“Mengucapkan terima kasih kepada BPBD telah menyumbang perahu karet yang sekarang sudah diganti dari Koarmada RI (TNI AL) dengan perahu baru. Dan masyarakat disini satu-satunya akses jembatan ini karena roboh maka diganti dengan perahu karet tersebut,” kata Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah kepada awak media, Selasa (14/7/2026).
Menurut Dilah, putusnya jembatan memaksa masyarakat dari sejumlah kampung menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh, terutama bagi warga yang membawa kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Adapun jalan alterantif lain melalu jalan PT. SCG atau PT. TSS dan juga melalui jalur irigasi yang mana sangat jauh sekali jadi jarak hampir 6 kilometer,” paparnya.
Ia menjelaskan, dampak putusnya Jembatan Leuwidinding tidak hanya dirasakan satu desa, melainkan juga memengaruhi konektivitas antarwilayah di tiga kecamatan.
“Ini menyangkut kecamatan, seberang sana adalah kecamatan Jampangtengah yaitu Desa Tanjungsari, yang terdampak Kampung Leuwidinding, dan sebelah sini adalah Desa Sirnaresmi kecamatan Gunungguruh sebelah sana adalah Desa Parakanlima Kecamatan Cikembar, jadi tiga Kecamatan. Adapun Desa ada lima yaitu, Parakanlima, Sirnareami, Sukamaju, Wangunreja dan Tanjungsari,” urainya.
Sebelum jembatan roboh, jalur tersebut menjadi akses utama masyarakat yang bekerja di kawasan industri Kecamatan Cikembar hingga Kota Sukabumi. Kini, untuk kendaraan maupun layanan darurat, masyarakat harus memanfaatkan jalur alternatif melalui kawasan perusahaan.
“Bagi kendaraan nyambung, melalui jalan sini yang kerja di GSI, Kino dan pabrik bohlam dan banyak perusahan-perusahan lain yang berada diwilayah Cikembar. Kalaupun urgen, maka pihak SCG pun membuka 24 jam, kita menyediakan ambulance desa,” pungkasnya.
Pemerintah Desa Tanjungsari berharap keberadaan perahu karet bantuan Koarmada RI TNI AL ini dapat terus menunjang mobilitas masyarakat hingga pembangunan kembali Jembatan Gantung Leuwidinding terealisasi dan akses utama warga kembali pulih.
Redaktur: RAG






