WARUNGKIARA, sukabumiinside.com | Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kabupaten Sukabumi bukan sekadar panggung untuk memperebutkan medali dan gelar juara. Di balik kompetisi tersebut, ada potensi siswa yang ingin dipetakan, dikembangkan, dan dipersiapkan untuk bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi berencana memperkuat pembinaan siswa madrasah yang memiliki bakat dan kemampuan menonjol melalui pemantauan serta inventarisasi potensi peserta AKSIOMA.
Rencana itu disampaikan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kemenag Kabupaten Sukabumi, H. Deddy Wijaya, saat ditemui awak media dalam pelaksanaan AKSIOMA tingkat MTs se-Kabupaten Sukabumi di Pondok Modern Assalam, Kamis (15/10/2026).
Menurut Deddy, kegiatan dua tahunan yang diikuti sekitar 1.300 peserta tersebut memiliki nilai lebih dari sekadar kompetisi. AKSIOMA juga menjadi ruang untuk mengenali kemampuan siswa sekaligus mempererat silaturahmi antarmadrasah.
Dari ajang ini, pihaknya melihat adanya peluang untuk menjaring siswa yang memiliki bakat menonjol, baik dalam bidang olahraga maupun seni. Potensi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar tidak berhenti setelah kompetisi selesai.
“Anak-anak yang memang punya potensi dan bakat bagus harus kita apresiasi dan arahkan. Ke depan, mungkin kita akan membuat komunitas-komunitas tertentu untuk menampung mereka,” ujar Deddy.
Kemenag Kabupaten Sukabumi berencana mendokumentasikan dan menginventarisasi potensi peserta AKSIOMA sebagai bahan untuk menyusun pembinaan yang lebih terarah.
Melalui langkah tersebut, siswa yang menunjukkan kemampuan menonjol diharapkan dapat memperoleh kesempatan mengembangkan bakatnya secara berkelanjutan. Mereka juga berpeluang dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi lain di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Bagi Deddy, prestasi siswa madrasah perlu dibangun melalui proses yang berkesinambungan. Kompetisi menjadi salah satu cara untuk mengenali kemampuan mereka, sedangkan pembinaan menjadi bagian penting untuk mengembangkan potensi tersebut.
Rencana pembentukan komunitas berdasarkan bidang atau potensi tertentu juga menjadi salah satu gagasan yang disampaikan. Komunitas tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi siswa berbakat untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuannya.
Meski demikian, rencana itu masih memerlukan tindak lanjut agar pola pembinaan dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Di balik peluang pengembangan prestasi tersebut, Deddy mengakui masih terdapat kendala yang perlu mendapat perhatian, terutama keterbatasan sarana dan prasarana olahraga di sejumlah madrasah.
Tidak semua madrasah memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang latihan secara rutin. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan kesempatan pembinaan yang lebih merata bagi siswa.
Karena itu, menurutnya, pengembangan bakat dan prestasi tidak bisa hanya mengandalkan semangat siswa maupun kemampuan masing-masing madrasah. Dukungan dan sinergi berbagai pihak juga diperlukan agar potensi peserta didik dapat berkembang secara optimal.
AKSIOMA diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat pola pembinaan tersebut. Dengan pemetaan potensi yang lebih baik, siswa berbakat dapat memperoleh perhatian sesuai kemampuan dan bidang yang mereka tekuni.
“Potensi yang ada ini adalah anak-anak kita yang bisa diandalkan untuk mengikuti event lain di tingkat berikutnya,” pungkas Deddy.
Reporter: Ade
Redaktur: Juliansyah






