WARUNGKIARA, sukabumiinside.com | Ada harta yang habis ketika dimakan, ada pula yang menjadi rebutan ketika disimpan. Namun, ada sesuatu yang diyakini tidak akan pernah sia-sia ketika dipersembahkan untuk jalan Allah , sebuah masjid.
Pesan itulah yang terasa kuat dalam peresmian masjid yang dibangun melalui kepedulian Joko Agung Purnomo di Desa Damaraja, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi.
Tak hanya satu, pembangunan masjid tersebut menjangkau Delapan titik di wilayah Warungkiara. Sebagian di antaranya telah diresmikan secara bertahap, menjadi tempat warga berkumpul, menunaikan salat, mengaji, serta menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan.
Salah satu sosok yang turut berperan dalam merekomendasikan lokasi pembangunan masjid tersebut adalah Ustadz Rustandi Abdul Qodir.

Ia mengatakan, pembangunan masjid tersebut bukan semata-mata tentang mendirikan sebuah bangunan, tetapi bagaimana fasilitas itu nantinya benar-benar menjadi milik masyarakat dan dimakmurkan bersama.
“Alhamdulillah, di Sukabumi ini, khususnya wilayah sini, dapat Delapan masjid. Ini pemberian dari Bapak Joko Agung Purnomo,” ujar Ustadz Rustandi, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, Joko Agung Purnomo yang bertugas di Mabes Polri dan disebut juga sebagai Sespri Wakapolri Jenderal Dedi, memiliki perhatian terhadap pembangunan sarana ibadah.
Yang paling penting, kata Rustandi, masjid tersebut tidak sekadar dibangun lalu ditinggalkan.
“Beliau menyampaikan, ini bukan dititipkan, tapi diserahkan kepada warga. Silakan dimakmurkan,” tuturnya.
Ustadz Rustandi menyampaikan pesan yang begitu dalam tentang alasan pembangunan masjid tersebut.
Menurutnya, apa yang dimiliki manusia di dunia pada akhirnya akan ditinggalkan. Harta yang dikumpulkan sebanyak apa pun tidak akan ikut dibawa ketika seseorang kembali menghadap Sang Pencipta.
“Dunia ini semua akan disimpan menjadi rebutan. Dimakan akan menjadi kotoran. Manakala dibangun masjid, inilah yang akan abadi,” ungkapnya.
Bagi Rustandi, kalimat tersebut menggambarkan harapan besar dari pembangunan masjid: agar kebaikan yang dimulai hari ini dapat terus mengalir melalui setiap orang yang datang untuk beribadah.
Sebab, ketika bangunan masjid berdiri dan terus digunakan untuk salat, pengajian, pendidikan Al-Qur’an hingga kegiatan sosial, maka ada harapan pahala kebaikan terus mengalir kepada mereka yang ikut mewujudkannya.
Rustandi menyebut pembangunan sembilan masjid tersebut menjadi sesuatu yang patut disyukuri masyarakat Damaraja dan wilayah lainnya.
Bahkan, menurutnya, masih ada kemungkinan pembangunan masjid kembali dilakukan apabila terdapat kebutuhan masyarakat terhadap sarana ibadah.
“Ini khususnya di Damaraja ada tiga masjid. Bahkan mungkin mau nambah lagi satu. Ada masjid yang mau dirobohkan, insya Allah saya mau langsung lanjut ke sana,” tandasnya.
Ia berharap kehadiran masjid-masjid tersebut bukan hanya memperindah lingkungan, tetapi menjadi pusat lahirnya masyarakat yang semakin rukun, sejahtera dan dekat dengan Allah SWT.
Ustadz Rustandi kemudian mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf ayat 96, tentang janji keberkahan bagi penduduk suatu negeri yang beriman dan bertakwa.
Ia berharap masyarakat Damaraja dan Kecamatan Warungkiara dapat menjaga kehidupan yang rukun, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat.
“Kalau penduduk negeri ini beriman dan bertakwa kepada Allah, Allah akan bukakan pintu-pintu keberkahan,” imbuhnya.
Ia berharap keberkahan itu tidak hanya dirasakan dalam kehidupan beragama, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat secara luas.
“Pertaniannya bagus, makmur, sejahtera. Insya Allah orang-orangnya saleh dan salehah,” katanya.
Dalam proses pembangunan masjid tersebut, Rustandi mengaku mendapat amanah untuk membantu merekomendasikan lokasi-lokasi yang dinilai membutuhkan pembangunan sarana ibadah.
“Saya di keluarga Pak Joko ini merekomendasikan tempat-tempat mana yang harus dibangun. Saya disuruh Pak Joko,” jelasnya.
Setelah lokasi dinilai sesuai dan mendapat persetujuan, proses pembangunan kemudian dilanjutkan bersama pihak terkait, termasuk arsitek dan pelaksana pembangunan.
Kini, masjid-masjid itu telah berdiri di tengah masyarakat.
Namun, bagi Rustandi, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai. Sebab, membangun masjid adalah satu hal. Memakmurkannya adalah amanah yang jauh lebih panjang.
Dari lantunan azan, saf-saf salat yang mulai terisi, suara anak-anak membaca Al-Qur’an, hingga doa-doa yang dipanjatkan di dalamnya, tersimpan harapan agar setiap batu yang menjadi bagian dari masjid tersebut menjadi saksi atas kebaikan yang pernah dilakukan.
Dan pada akhirnya, masjid bukan hanya tentang bangunan yang terlihat di dunia. Ia adalah tentang amal yang diharapkan tetap hidup, bahkan ketika orang yang membangunnya telah lama kembali kepada Allah SWT.
Redaktur: Juliansyah






