Pengawas Sekolah di Sukabumi Bahas Tantangan Karakter Gen Z di Tengah Arus Digital

Saa diskusi penguatan wawasan kebangsaan dan karakter siswa di era digital, Senin (21/9) FOTO//Ist

SUKABUMI, sukabumiinside.com | Tantangan pembentukan karakter generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi menjadi perhatian Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah V Kota/Kabupaten Sukabumi.

Puluhan pengawas SMA, SMK, dan SLB se-KCD Pendidikan Wilayah V mengikuti diskusi penguatan wawasan kebangsaan dan karakter siswa di era digital yang digelar di Gedung KCD Pendidikan Wilayah V Sukabumi, Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan penggiat pendidikan dari Rumah Literasi Merah Putih, Aam Abdul Salam, S.Ag., sebagai narasumber.

Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB KCD Pendidikan Wilayah V, Iwan Setiawan, M.A., mengatakan perkembangan teknologi membawa perubahan besar terhadap pola pikir, perilaku, serta cara berinteraksi generasi muda.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, terutama dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan karakter siswa.

“Pengawas sebagai kepanjangtanganan dari pemerintah juga memiliki peran strategis dalam mengarahkan transformasi digital ke arah yang lebih positif,” ujar Iwan.

Ia menilai pengawas sekolah saat ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi pengawasan terhadap mutu pembelajaran. Pengawas juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan pendidikan karakter tetap berjalan di tengah perubahan lingkungan sosial siswa.

Iwan menyebut Generasi Z merupakan kelompok yang sangat dekat dengan internet. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari memperoleh informasi, hiburan hingga membangun interaksi sosial.

Di sisi lain, derasnya arus informasi membuat siswa berpotensi terpapar berbagai konten dan budaya yang tidak selalu sejalan dengan nilai Pancasila maupun norma yang berlaku di masyarakat.

“Perkembangan teknologi yang pesat telah mengubah total cara berpikir dan bergaul generasi muda. Jika kita tidak hadir, wawasan kebangsaan akan tergerus. Ini ancaman serius bagi ketahanan nasional,” tegasnya.

Iwan juga menyoroti sejumlah dampak sosial yang mulai terlihat, seperti kecenderungan individualistis, berkurangnya interaksi tatap muka, hingga persoalan adab dan moral.

Karena itu, ia mendorong adanya penguatan ketahanan digital, perlindungan data pribadi, serta pengawasan terhadap konten negatif di internet.

Sementara itu, penggiat Rumah Literasi Merah Putih, Aam Abdul Salam, S.Ag., mengatakan teknologi pada dasarnya memberikan banyak peluang bagi generasi muda.

Menurutnya, internet dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pendidikan, membuka peluang pekerjaan digital, serta mendorong inovasi. Namun, manfaat tersebut harus diimbangi dengan kemampuan literasi dan karakter yang kuat.

“Teknologi sejatinya memberikan akses luas terhadap pendidikan, pekerjaan digital, dan inovasi. Namun tanpa literasi yang benar, teknologi justru merusak karakter,” kata Aam.

Ia menekankan pentingnya literasi digital yang tidak sebatas kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi. Siswa juga perlu dibekali pemahaman mengenai etika, tanggung jawab, serta konsekuensi dari aktivitas mereka di ruang digital.

“Anak muda harus diajarkan memilah informasi, melawan hoaks, dan paham dampak sosial dari setiap unggahan di media digital,” ujarnya.

Menurut Aam, sekolah dan keluarga harus menjadi dua lingkungan utama dalam membangun karakter generasi muda. Nilai-nilai Pancasila, kata dia, harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran.

Penguatan karakter juga dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas di luar pembelajaran formal, seperti kegiatan sosial, pramuka, pelatihan bela negara, serta komunitas literasi kebangsaan.

Berbagai kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi siswa untuk membangun kepedulian sosial, rasa cinta tanah air, sekaligus kemampuan bekerja sama dengan orang lain.

Aam juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pengawas dan guru terhadap pembentukan karakter siswa tidak berhenti ketika kegiatan belajar di sekolah selesai.

“Pengawas harus menjadi figur yang didengar masyarakat dalam urusan pembentukan karakter anak, bersinergi dengan orang tua,” pungkasnya.

Diskusi tersebut menjadi ruang bagi para pengawas untuk memperkuat perspektif dalam menghadapi perubahan perilaku generasi muda sekaligus mencari pendekatan pendidikan yang tetap relevan dengan perkembangan era digital. (RAG).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *