SUKABUMI, sukabumiinside.com | Sikap Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ono Surono, soal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memantik tanda tanya. Alih-alih memberikan penilaian, Ono justru memilih “lempar bola” saat ditanya awak media di Sukabumi.
Momen itu terjadi usai dirinya menghadiri peringatan Hari ASI Internasional di Lapang Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Kamis (6/8/2026).
Saat dicecar pertanyaan terkait efektivitas MBG program yang tengah digencarkan pemerintah, Ono hanya menjawab singkat, tanpa elaborasi.
“Tanya saja kepada yang membuat programnya,” ujarnya.
Jawaban tersebut sontak menimbulkan spekulasi, di tengah gencarnya promosi program MBG sebagai salah satu solusi percepatan penurunan stunting.
Meski enggan menilai, Ono tak menampik bahwa MBG memiliki keterkaitan dengan isu stunting. Namun ia menegaskan, sasaran utama yang paling membutuhkan intervensi gizi justru bukan seluruh masyarakat, melainkan kelompok rentan.
“MBG itu ada kaitannya dengan stunting, tetapi yang paling diperlukan itu untuk ibu hamil dan anak di bawah dua tahun. Di luar itu tidak ada kaitannya dengan stunting,” bebernya.
Pernyataan ini seolah menjadi kritik tersirat terhadap arah kebijakan MBG yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran.
Dalam kesempatan tersebut, Ono justru lebih menekankan pentingnya peran ASI eksklusif sebagai fondasi utama pencegahan stunting. Ia menyebut, pemenuhan gizi anak sejatinya dimulai sejak dalam kandungan hingga usia dini.
“ASI itu tidak perlu dibeli, hanya dari ibunya. Yang penting ibunya mendapatkan asupan gizi yang baik,” jelasnya.
Menurutnya, bayi sejak lahir hingga usia enam bulan idealnya hanya mendapatkan ASI tanpa tambahan apapun. Setelah itu, pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan dukungan makanan pendamping (MPASI).
Ono juga menegaskan, keberhasilan menekan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah semata. Dibutuhkan komitmen kuat dari masyarakat, khususnya para ibu.
“Kalau ingin stunting berkurang bahkan hilang, kuncinya ada pada komitmen ibu-ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Hari ASI ini harus jadi gerakan bersama,” tandasnya.
Ia menambahkan, isu stunting erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi, kata dia, berakar dari terpenuhinya kebutuhan gizi sejak dini.
Namun, saat kembali ditanya soal penilaian konkret terhadap pelaksanaan MBG, Ono tetap bergeming. Ia kembali mengarahkan pertanyaan tersebut kepada pihak yang merancang program.
Sikap ini menyisakan ruang tafsir apakah ini bentuk kehati-hatian politik, atau sinyal bahwa program unggulan tersebut masih menyisakan persoalan di lapangan.
Sumber: JS
Redaktur: Juliansyah






