Banyak Warga Terjatuh, Jembatan Cipanaruban Kembali Rusak, Kades Duga Spek Pengerjaan Tak Sesuai

Kondisi terkini Jembatan Cipanaruban di Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. FOTO//Istimewa

WARUNGKIARA, sukabumiinside.com | Jembatan Cipanaruban yang berada di Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, kembali mengalami kerusakan. Padahal, jembatan tersebut baru sekitar empat hingga lima bulan selesai diperbaiki.

Kondisi jembatan yang kembali rusak dan semakin miring membuat warga harus ekstra hati-hati saat melintas. Bahkan, sejumlah warga, terutama pengendara sepeda motor, dilaporkan telah terjatuh ketika melewati jembatan tersebut.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Mekarjaya, Utom, mengungkapkan kondisi Jembatan Cipanaruban saat ini semakin parah. Ia khawatir kerusakan akan semakin memburuk ketika memasuki musim hujan.

“Saya Kepala Desa Mekarjaya. Saya harus menyampaikan yang mungkin sejelas-jelasnya. Kondisi jembatan sekarang semakin parah. Apalagi kalau nanti ada musim hujan, semakin parah,” ujar Utom, kepada sukabumiinside.com, Senin (27/7/2026).

Menurut Utom, Pemerintah Desa Mekarjaya telah mendapat informasi bahwa Jembatan Cipanaruban akan kembali diperbaiki. Namun, hingga kini pihak desa belum mengetahui secara pasti besaran anggaran yang akan digunakan untuk perbaikan tersebut.

Ia berharap proses perbaikan nantinya dilakukan dengan memperhatikan spesifikasi teknis yang sesuai. Hal itu dinilai penting agar jembatan tidak kembali mengalami kerusakan dalam waktu singkat. “Jadi sekarang ini kan ada kabarnya jembatan mau diperbaiki lagi, dengan anggaran yang desa juga belum tahu besarannya gitu. Tapi saya meminta kepada pihak-pihak yang berkepentingan di sana, saya minta mewakili masyarakat Desa Mekarjaya untun pengerjaannya, ya sesuai dengan spek,” jelasnya.

“Bukan hanya warga desa kami atau Kecamatan Warungkiara saja tapi juga menyangkut warga yang masuk ke Kecamatan Simpenan,” tambahnya.

Utom mengungkapkan, jembatan itu diperkirakan baru sekitar dua atau enam bulan dipergunakan masyarakat setelah selesai dperbaiki. Menurutnya, selain akibat diterjang banjir, ia menduga spesifikasi pengerjaan jembatan sebelumnya tidak sesuai.

“Ya, yang pertama memang diterjang banjir. Yang kedua mungkin speknya tidak sesuai. Kalau speknya sesuai, mungkin ada banjir juga mungkin agak kuatan dan bisa nahan terjangan banjir,” ungkapnya.

Gambar jembatan yang tidak memiliki penopang tengah. FOTO//Istimewa

 

 

Dugaan pengerjaan yang tidak maksimal juga diperkuat dengan kondisi tiang penopang di bagian tengah jembatan. Utom membenarkan informasi bahwa tiang penopang tersebut diduga tidak memiliki pondasi yang memadai.

“Ya, benar. Tiang penopang yang ada di tengah-tengah itu tidak ada pondasinya, mungkin pengerjaannya juga diduga asal-asalan,” tegas Utom.

Kerusakan jembatan tersebut kini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan. Utom menyebut sudah banyak warga yang terjatuh saat melintas, meski sebagian besar tidak mengalami luka parah.

“Nah, kalau korban sih banyak, cuma nggak begitu parah. Kalau yang jatuh mah banyak,” ujarnya.

Ia mengatakan, warga yang mengalami kecelakaan saat melintas di jembatan tersebut umumnya merupakan pengendara sepeda motor. Kendati demikian, sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban yang mengalami luka serius.

Meski kondisi jembatan membahayakan, warga tetap terpaksa menggunakannya. Sebab, Jembatan Cipanaruban menjadi akses utama sekaligus satu-satunya jalur yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai sentra pelayanan publik, seperti kantor kecamatan, kantor desa, sekolah, hingga pasar.

Utom mengatakan masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain tetap melintasi jembatan tersebut. Jalur alternatif di bawah jembatan dinilai sulit untuk digunakan.

“Ya, masyarakat itu memaksakan diri. Soalnya kalau tidak menyeberang di jembatan itu kan kalau ke bawah tuh susah,” katanya.

Dengan kondisi jembatan yang semakin miring dan rusak, Pemerintah Desa Mekarjaya berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan perbaikan secara menyeluruh. Utom juga meminta agar pengerjaan nantinya dilakukan sesuai spesifikasi dan standar konstruksi yang semestinya.

“Harapan saya mewakili warga, terutama warga Desa Mekarjaya, tolong diperbaiki sebagaimana mestinya. Soalnya kan ini menyangkut nyawa manusia gitu, dan kami sering mendapat laporan bahwa banyak yang jatuh, tapi beruntungnya belum ada korban yang mengalami luka parah,” pungkasnya.

Diketahui, Jembatan Cipanaruban memiliki panjang sekitar 30 meter dengan lebar kurang lebih 2 hingga 2,5 meter. Pada perbaikan sebelumnya, jembatan tersebut menggunakan material kayu.

Warga berharap perbaikan segera direalisasikan dengan kualitas pengerjaan yang lebih baik dan sesuai spesifikasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang lebih serius, mengingat Jembatan Cipanaruban merupakan akses vital bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

Redaktur: RAG

Pos terkait

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 - SukabumiInside.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *