Dari Bangunan Rusak Hingga Kekurangan Guru, Potret SDN Ciseupan Yang Kini Direvitalisasi

Tampak depan gedung Sekolah SDN Ciseupan saat proses rehab masih berlangsung. | Foto: sukabumiinside.com

BANTARGADUNG, sukabumiinside.com | Harapan untuk memiliki ruang belajar yang lebih layak akhirnya mulai terwujud di SD Negeri Ciseupan, Desa Boyongsari, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi.

Sekolah yang sebelumnya menghadapi sejumlah persoalan pada kondisi bangunan tersebut kini mendapat bantuan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, bantuan yang diterima SDN Ciseupan mencapai Rp639.868.535, bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Pekerjaan meliputi rehabilitasi dua ruang kelas, dua ruang administrasi, satu ruang UKS, serta dua toilet dengan waktu pelaksanaan 150 hari kalender.

Kepala SDN Ciseupan, Uyok Sutaryo, mengatakan, kondisi sejumlah fasilitas sekolah sebelum direhabilitasi memang sudah memprihatinkan.

Salah satu bangunan bahkan sudah tidak memiliki atap sehingga tidak dapat digunakan. Kondisi ruang kelas juga belum seluruhnya memenuhi standar, termasuk lantai kelas 5 yang masih berupa rabat dan belum menggunakan ubin.

“Yang satu bangunan itu sudah ambruk, sudah tidak ada gentingnya. Kemudian untuk kelas 5 masih rabat, bawahnya bukan ubin. Yang lainnya sudah tidak bisa digunakan,” ujar Uyok kepada sukabumiinside.com, Rabu (16/9/2026).

Persoalan serupa juga terjadi pada fasilitas toilet yang kondisinya dinilai sudah membutuhkan perbaikan.

Menurut Uyok, pihak sekolah sebelumnya telah berupaya agar kondisi sarana dan prasarana tersebut mendapat perhatian pemerintah. Namun, prosesnya tidak sekadar melalui pengajuan proposal, melainkan sekolah terlebih dahulu diarahkan untuk memperbaiki dan memperbarui data pokok pendidikan (Dapodik).

“Makanya kami sempat memperbaiki Dapodik-nya, kemudian ada respons. Alhamdulillah tahun ini dapat rehab,” katanya.

Di tengah perbaikan fasilitas, SDN Ciseupan masih menghadapi persoalan lain, yakni keterbatasan tenaga pendidik.

Saat ini terdapat sekitar 198 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran. Sementara jumlah guru yang tersedia masih terbatas sehingga sejumlah tenaga pendidik harus menangani lebih dari satu kelas.

Uyok menyebut kondisi tersebut membuat proses pembelajaran belum berjalan maksimal.

Salah satunya, guru harus merangkap menangani kelas 1 dan kelas 2. Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya menjadi beban bagi guru, tetapi juga berdampak terhadap efektivitas pembelajaran siswa.

“Karena kekurangan guru, ada yang merangkap. Bu Erni misalnya, kelas 1 dan kelas 2. Kasihan gurunya, juga kasihan anaknya. Proses pembelajaran jadi kurang efektif,” ungkapnya.

Uyok berharap revitalisasi bangunan sekolah tidak berhenti pada pembenahan fisik. Setelah fasilitas selesai dibangun dan digunakan, kebutuhan tenaga pendidik juga diharapkan mendapat perhatian.

Pihak sekolah berharap ada penambahan guru sehingga jumlah tenaga pengajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan kelas yang ada.

Selain itu, Uyok berharap keberadaan guru P3K paruh waktu dapat ditingkatkan menjadi penuh waktu, sementara guru P3K penuh waktu ke depannya dapat diangkat menjadi PNS sesuai kebijakan pemerintah.

“Harapannya ada penambahan atau pengangkatan guru baru, minimal memenuhi sesuai dengan kelas yang ada. Kemudian P3K paruh waktu diangkat menjadi penuh waktu dan P3K penuh waktu menjadi PNS sesuai rencana pemerintah,” pungkasnya.

Dengan revitalisasi tersebut, sekolah berharap perubahan tidak hanya terlihat pada bangunan, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh 198 siswa dan para guru dalam proses belajar mengajar sehari-hari.

Bagi SDN Ciseupan, perbaikan gedung bukan sekadar membangun kembali ruang yang rusak, tetapi membuka harapan agar anak-anak bisa belajar di lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan layak.

 

Redaktur: Juliansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *