Tangisan Warga Cijambe, Panggil Prabowo Subianto dan Asep Japar Minta Segera Direlokasi

Warga Korban Pergerakan Tanah di Kampung Cijambe, Desa dan Kecamatan Bantargadung , Kabupaten Sukabumi saat mengikuti aksi spontanitas, Senin (29/6/2026). | Foto: Juliansyah

BANTARGADUNG, sukabumiinside.com | Tangisan dan harapan bercampur jadi satu di halaman Masjid Cijambe. Puluhan warga korban pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menggelar aksi spontanitas sebagai bentuk keputusasaan sekaligus harapan terakhir.

 

Bacaan Lainnya

Dalam aksi tersebut, warga secara lantang menyebut nama Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta Bupati Sukabumi, Asep Japar, memohon agar segera dilakukan relokasi terhadap para korban bencana pergerakan tanah yang terjadi pada Februari 2026 lalu.

 

Bencana itu menyisakan luka mendalam. Berdasarkan data yang dihimpun sukabumiinside.com, sebanyak 112 kepala keluarga (KK) dengan total 356 jiwa terdampak. Di antaranya terdapat 48 balita, 8 penyandang disabilitas, dan 37 lansia, kelompok rentan yang kini hidup dalam ketidakpastian.

 

Lebih memprihatinkan, dari total tersebut, 46 KK terpaksa mengungsi mandiri ke rumah kerabat atau menyewa kontrakan dengan biaya sendiri. Sisanya bertahan dalam kondisi serba terbatas tanpa kejelasan masa depan.

 

Suasana aksi pun diwarnai isak tangis warga. Nung (60), salah satu korban, tak mampu menyembunyikan kepedihannya saat menyampaikan harapan.

 

“Kami mohon Pak Presiden dan Pak Bupati agar segera direlokasi. Tolong saya, Pak… kami sudah tidak punya rumah,” ucapnya, Senin (29/6/2026).

 

 

Bagi warga Cijambe, ini bukan sekadar aksi biasa. Ini adalah jeritan panjang yang akhirnya pecah ke permukaan. Mereka hidup dalam bayang-bayang ancaman pergerakan tanah susulan, tanpa keberanian untuk kembali ke rumah yang telah hancur.

 

Kini, satu tuntutan mereka jelas dan tak bisa ditunda: relokasi secepatnya. Warga berharap pemerintah pusat dan daerah segera turun tangan, menghadirkan solusi nyata, bukan sekadar janji.

 

Sebab bagi mereka, waktu bukan lagi soal menunggu, melainkan bertahan hidup di tengah ketidakpastian.

 

Redaktur: Juliansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *