WARUNGKIARA, sukabumiinside.com — Lahan pertanian di balik tembok Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, kembali menghasilkan. Sebanyak 250 kilogram sawi dipanen dari lahan pertanian yang dikelola sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Panen tersebut bukan sekadar menghasilkan sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan. Di balik aktivitas mencangkul, menanam hingga memanen, terselip misi yang lebih besar: membekali WBP dengan keterampilan yang bisa menjadi modal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Kegiatan pertanian ini menjadi bagian dari komitmen Lapas Kelas IIA Warungkiara dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus menjalankan pembinaan produktif bagi warga binaan.
Dalam prosesnya, WBP dilibatkan secara langsung sejak tahap pengolahan lahan, penanaman, perawatan hingga panen sawi.
Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman praktis kepada warga binaan mengenai pengelolaan tanaman sekaligus menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab dan kemandirian.
Hasilnya pun cukup menggembirakan. Dari lahan pertanian Lapas Warungkiara, sebanyak 250 kilogram sawi berhasil dipanen.

Hasil pertanian tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun disalurkan melalui mekanisme pemasaran yang berlaku.
Program pertanian di Lapas Warungkiara memiliki makna lebih luas daripada sekadar menghasilkan komoditas.
Bagi WBP, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk belajar dan berlatih. Keterampilan bercocok tanam diharapkan dapat menjadi salah satu bekal produktif setelah mereka menyelesaikan masa pembinaan dan kembali berbaur dengan masyarakat.
Dengan demikian, proses pembinaan tidak hanya berlangsung di dalam ruang pembelajaran, tetapi juga melalui aktivitas nyata yang menghasilkan.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan Lapas Kelas IIA Warungkiara terhadap 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam peningkatan produktivitas dan keterampilan WBP.
Lapas Kelas IIA Warungkiara berkomitmen untuk terus mengoptimalkan lahan yang tersedia agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Pengembangan komoditas juga akan terus dilakukan dengan harapan produktivitas pertanian dapat meningkat dan manfaatnya semakin luas.
Langkah ini memperlihatkan bahwa pembinaan WBP dapat berjalan beriringan dengan upaya mendukung ketahanan pangan.
Dari balik tembok lapas, 250 kilogram sawi menjadi bukti bahwa program pembinaan juga bisa menghasilkan karya, keterampilan dan manfaat nyata.
Sumber: Siaran Pers Lapas Kelas IIA Warungkiara
Redaktur: Juliansyah






