WARUNGKIARA, sukabumiinside.com | Enam bulan lebih berlalu sejak bencana pergerakan tanah menerjang kawasan Cijambe, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Namun, bagi sebagian warga terdampak, masa pemulihan belum juga menemukan ujung.
Salah satunya Juariah (65), warga Kampung Cijambe RT 05/RW 07. Setelah rumahnya terdampak bencana pada Februari 2026, ia harus meninggalkan tempat tinggalnya karena khawatir kembali dihuni.
Kini, Juariah bertahan hidup di sebuah saung sederhana yang dibangunnya sendiri setelah tidak lagi mampu membayar kontrakan.
“Semenjak kejadian bencana itu langsung tinggal di sini,” ujar Juariah saat ditemui, Kamis (17/9/2026).
Ia mengaku mulai menempati saung tersebut setelah masa bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) berakhir. Bantuan untuk biaya tempat tinggal sementara itu, menurutnya, belum kembali diterima.
“Sudah habis enam bulan, belum ada lagi,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Juariah terpaksa mencari cara sendiri agar tetap memiliki tempat berlindung. Rumah lamanya yang berada di bawah kawasan terdampak masih ada, tetapi ia mengaku tidak berani kembali, terutama ketika hujan deras turun.
“Takut. Nanti nunggu hujan dulu, hujan deras itu waktu juga kejadiannya. Pas Februari,” tuturnya.
Juariah masih mengingat bagaimana aparat desa dan pemerintah daerah datang ke lokasi setelah rumahnya terdampak. Saat itu, ia mulai bersiap mengungsi dengan mengemas pakaian ke dalam karung.
Ia kemudian sempat mengungsi ke Pesantren Darussalam. Sementara seorang anggota keluarga yang sudah lanjut usia juga harus dititipkan kepada keluarga lainnya.
Namun, setelah berbagai tempat persinggahan, Juariah akhirnya kembali ke kawasan Cijambe dan memilih membangun saung sederhana untuk tempat tinggal.
Di tengah keterbatasan, Juariah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan kangkung.
“Satu ikatnya Rp2.000. Sekali ambil paling dapat Rp30.000. Dapat uang dibelikan beras,” ujarnya.
Penghasilan yang tidak menentu membuat kebutuhan pangan menjadi persoalan tersendiri. Dalam kondisi tertentu, Juariah mengaku harus mengandalkan makanan sederhana seperti singkong dan tiwul.
“Kadang-kadang makan nasi dari singkong, tiwul,” imbuhnya.
Beban keluarga semakin berat karena suaminya kini tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Juariah juga masih harus mengurus anggota keluarga yang sudah lanjut usia.
Di tengah situasi tersebut, ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian, terutama mengenai tempat tinggal yang aman bagi warga terdampak bencana.
“Semoga dapat bantuan yang segera dibantu. Tempat tinggal,” ucapnya.
Persoalan yang dihadapi Juariah tak berhenti pada tempat tinggal. Ia juga mengaku sejumlah bantuan sosial yang sebelumnya diterima kini tidak lagi didapatkannya.
“BPNT segala sudah enggak dapat,” Tandasnya.
Bahkan, ia menyebut anaknya yang masih duduk di bangku SMA dan memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) juga disebut sudah sekitar tiga tahun tidak mendapatkan bantuan.
Kisah Juariah menggambarkan bahwa bagi korban bencana, persoalan tidak selalu selesai ketika masa tanggap darurat berakhir. Ketika bantuan hunian sementara terhenti sementara tempat tinggal permanen belum tersedia, warga seperti Juariah harus mencari jalan sendiri untuk bertahan.
Di sebuah saung sederhana di Cijambe, ia kini menjalani hari-hari dengan berjualan kangkung, mengurus keluarga, dan menunggu kepastian tempat tinggal yang lebih aman.
Harapannya sederhana memiliki tempat untuk tinggal tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan turun.
Redaktur: Juliansyah






